Kedamaian Hati adalah Kedamaian Sejati

Saya pernah diminti tolong, untuk membawakan Renungan disebuah acara kumpulan muda-mudi di Gereja Kiwi, sedikit bingung sih mau kasih renungan apa, secara saya tidak terlalu pintar berbicara, tetapi Puji Tuhan saya pernah mendapatkan artikel dibawah ini dan tulisan dibawah berikut merupakan renungan yang aku bawakan pada saat itu. Siapa tau ini juga dapat berguna bagi teman-teman, jadi saya coba share di blog ini.

Adalah Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut. Sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu diantara keduanya.

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang.
Permukaan telaga yang itu bagaikan cermin sempurna yang mematulkan kedamaian gunung-gunung yang tenang menjulang mengitarinya.
Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak.
Semua yang mandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.

Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga.
Namun tampak kasar dan gundul.
Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai, sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar.
Disisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih, sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang raja melihat sesuatu yang menarik, Dibalik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil diatas sela-sela batu. Didalam semak-semak itu seekor induk burung pipit meletakkan sarangnya. Jadi,ditengah-tengah riuh rendahnya air terjun, seekor induk Pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.

Menurut Saudara lukisan manakah yang memenangkan lomba?

Sang Raja memilih lukisan nomor dua.

Tahukah Anda mengapa? Karena menurut sang Raja,

“Kedamaian bukan berarti Anda harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski Anda berada di tengah-tengah keributan luar biasa.”

“Kedamaian hati adalah kedamaian sejati.”

(Anna Mardiana)

Iya, Kedamaian hati bukanlah harus selalu ditempat yang tenang, sejuk, tanpa keributan bahkan tanpa masalah. Tetapi adalah kedamain yang sejati apabila kita bisa damai ditengah hiruk pikuknya kehidupan yang kita alami.

Semua kita menyadari bagaimana kenyataan hidup di jaman sekarang ini jaman yang serba kesusahan. Bisa saja kita berkata bahwa tidak akan pernah ada damai tercipta sampai kapanpun. Bagaimana bisa damai? Jelas-jelas kita semua mengetahui akhir tahun 2008 saja kita ditimpa yang namanya Krisis Global, resesi ekonomi, angka pengangguran makin bertambah dan tingkat kemiskinan semakin terasa karena imbas dari krisis global. Ko bisa ya krisis global membuat orang jadi miskin? yah hal ini terjadi karena perusahaan-perusahaan besar maupun perusahaan menengah dan kecil banyak yang bangkrut bahkan tutup, sehingga mau tidak mau perusahan-perusahaan tersebut harus memPHKkan karyawannya karena tidak lagi mampu untuk membayar gaji karyawannya. Itu sebabnya pengangguran akan terus-menerus bertambah. Walaupun menurut informasi dari BRS (Berita Resmi Statistik) Angka Pengangguran Nasional kini mencapai angka 8,39 persen sementara jika dibandingkan dengan tahun 2007 yaitu sebesar 9,11 persen tetapi tetap aja rasio angkanya akan meningkat yang mengakibatkan kemiskinan.

Nah kita sudah melihat dan mengetahui dampak dari krisis yang terjadi sehingga bisa saja kita mengatakan: “Bagaimana mau hidup tenang apalagi damai?”.

Tetapi ingatlah cerita menganai Sang Raja yang diatas, Raja itu mengatakan: “Kedamaian bukan berarti Anda harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski Anda berada di tengah-tengah keributan luar biasa.” Kita pasti bisa merasakan kedamaian itu walaupun ditengah hiruk pikuk kehidupan yang terjadi disekitar kita dengan syarat kita tidak mengandalkan diri kita sendir, tidak mengandalkan kekuatan kita sendiri tetapi dengan menyerahkan hidup kita dan bergantung sepenuhnya Kepada Yesus Kristus yang adalah pencipta, pemilik dan juruselamat kita masing-masing.

Tantangan dan pencobaan pasti datang menghampiri kehidupan kita masing-masing, bahkan mungkin kita juga akan terkena imbas dari krisis itu yang bisa saja membuat kita lemah, hati kita gundah bahkan rasa tidak berdaya. Tetapi jika saja kita memiliki keyakinan yang kokoh dengan tetap Percaya kepada Tuhan maka segala hal yang hendak kita capai di Tahun 2009 ini pasti kita dapat meraihnya. ” No matter how your heart is grieving… if you keep on believing… the dream that you wish will come true…”. Amin. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Zeneta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar